Wikipedia

Hasil penelusuran

Rabu, 13 April 2016

FILSAFAT KRISTEN

SALEH

Mari kita cermati pertanyaan dari seorang filsuf terkenal Sokrates (427-347 SM) berikut ini: Apakah sesuatu yang saleh itu dikasihi para Dewa karena sesuatu itu saleh, atau sesuatu itu saleh karena sesuatu itu dikasihi para Dewa? Sepintas pertannyaan tersebut tidak ada bedanya, seperti kalimat yang hanya dibalik. Jika dicermati lagi, ternyata pertannyaan itu memiliki perbedaan yang sangat substansial dan memerlukan pertimbangan yang matang untuk menjawabnya.
Sokrates memberikan penjelasan dari pertannyaanya sebagai berikut: kita berbicara tentang sesuatu “dibawa” atau sesuatu “membawa”, tentang sesuatu “dipimpin” atau sesuatu “memimpin”, tentang sesuatu “dilihat” atau “melihat”. Dan lagi, bukankah sesuatu yang “dikasihi” berbeda dari sesuatu yang “mengasihi”? Lalu, seseorang tidak melihat sesuatu karena sesuatu itu ada dalam keadaan “dilihat”, melainkan sebaliknya: sesuatu itu ada dalam keadaan dilihat karena seseorang melihatnya.
Bila kita menjawab pertannya diatas dari kisah penciptaan, maka hal ini akan berkaitan erat dengan Sang Awal (alfa), pencipta segala sesuatu; sang peng-ada (cratio ex nihilo); sumber dari segala sesuatu (Causa Prima). Jadi, bukan hanya hal ‘saleh’ yang bersumber dari Sang Awal, tetapi segala hal yang ada (bdk. Konsep Providensia dan Kebenaran Absolut). Sehingga, kita akan memilih kalimat kedua sesuatu itu saleh karena sesuatu itu dikasihi para Dewa, karena hal saleh itu bersumber dari pada-Nya.
               Namun, bila kita berfokus pada kisah manusia ciptaan dan kejatuhan dalam dosa, maka kita 
akan menemukan hal yang berbeda pula. Manusia awal berada pada kemurnian seperti Sang Ada itu sendiri. Setelah melakukan pelanggaran, maka manusia berada pada hakikat dosa (tahu tentang yang baik dan jahat), dan hal itu tidak bersumber dari Sang Ada, melainkan konsekuensi (kausalitas) dari tindakan mereka sendiri (free will). Sehingga, walaupun berada pada hakikat dosa, manusia tetap dapat melakukan hal yang baik. Jadi, konsep sebelumnya mulai diragukan, karena Sang Ada tidak dapat secara langsung campur tangan (meng-interfensi) manusia. Melalui penjelasan tersebut kita akan memilih kalimat pertama, sesuatu yang saleh itu dikasihi para Dewa karena sesuatu itu saleh. Hal ini terjadi karena manusia memiliki potensi yang sama (sisi kebaikan/saleh) dengan Sang Ada.

Tidak ada komentar:

Posting Komentar