SALEH
Mari
kita cermati pertanyaan dari seorang filsuf terkenal Sokrates (427-347 SM)
berikut ini: Apakah sesuatu yang saleh itu dikasihi para Dewa karena sesuatu itu
saleh, atau sesuatu itu saleh karena sesuatu itu dikasihi para Dewa? Sepintas pertannyaan tersebut tidak ada
bedanya, seperti kalimat yang hanya dibalik. Jika dicermati lagi, ternyata
pertannyaan itu memiliki perbedaan yang sangat substansial dan memerlukan
pertimbangan yang matang untuk menjawabnya.
Sokrates
memberikan penjelasan dari pertannyaanya sebagai berikut: kita berbicara
tentang sesuatu “dibawa” atau sesuatu “membawa”, tentang sesuatu “dipimpin”
atau sesuatu “memimpin”, tentang sesuatu “dilihat” atau “melihat”. Dan lagi,
bukankah sesuatu yang “dikasihi” berbeda dari sesuatu yang “mengasihi”? Lalu,
seseorang tidak melihat sesuatu karena sesuatu itu ada dalam keadaan “dilihat”,
melainkan sebaliknya: sesuatu itu ada dalam keadaan dilihat karena seseorang
melihatnya.
Bila
kita menjawab pertannya diatas dari kisah penciptaan, maka hal ini akan
berkaitan erat dengan Sang Awal (alfa), pencipta segala sesuatu; sang peng-ada
(cratio ex nihilo); sumber dari
segala sesuatu (Causa Prima). Jadi,
bukan hanya hal ‘saleh’ yang bersumber dari Sang Awal, tetapi segala hal yang
ada (bdk. Konsep Providensia dan Kebenaran Absolut). Sehingga, kita akan
memilih kalimat kedua sesuatu itu saleh
karena sesuatu itu dikasihi para Dewa, karena hal saleh itu bersumber dari
pada-Nya.
Namun, bila kita berfokus pada kisah manusia
ciptaan dan kejatuhan dalam dosa, maka kita
akan menemukan hal yang berbeda
pula. Manusia awal berada pada kemurnian seperti Sang Ada itu sendiri. Setelah
melakukan pelanggaran, maka manusia berada pada hakikat dosa (tahu tentang yang
baik dan jahat), dan hal itu tidak bersumber dari Sang Ada, melainkan
konsekuensi (kausalitas) dari
tindakan mereka sendiri (free will).
Sehingga, walaupun berada pada hakikat dosa, manusia tetap dapat melakukan hal
yang baik. Jadi, konsep sebelumnya mulai diragukan, karena Sang Ada tidak dapat
secara langsung campur tangan (meng-interfensi)
manusia. Melalui penjelasan tersebut kita akan memilih kalimat pertama, sesuatu yang saleh itu dikasihi para Dewa
karena sesuatu itu saleh. Hal ini terjadi karena manusia memiliki potensi
yang sama (sisi kebaikan/saleh) dengan Sang Ada.
Tidak ada komentar:
Posting Komentar