Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 23 April 2016

RENUNGAN... Kitab Mazmur 23:1-6

TUHAN, Gembalaku yang Baik(Mazmur 23:1-6)

Mazmur Daud. (1) TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (2) Ia membaringkan aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; (3) Ia menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya. (4) Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya, sebab Engkau beserta-ku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (5) Engkau menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (6)Kebajikan dan kemurahan belaka akan mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang masa.

        A.    LATAR BELAKANG
            Kitab Mazmur merupakan kumpulan nyanyian rohani, doa dan lagu-lagu atau sajak keagamaan. Mazmur-mazmur itu ditulis selama ratusan tahun oleh bayak pengarang, termasuk Raja Daud, untuk dibaca atau dinyanyikan oleh orang Israel sewaktu beribadat.[1] Ada mazmur yang mungkin ditulis diawal sejarah Israel ,tetapi adapula yang ditulis sesudah masa pembuangan di Babel.[2] Tujuh pulu tiga mazmur menyebutkan Daud sebagai penulisnya.[3] Daud adalah raja yang memerintah Israel sekitar 1010-970 SM[4]
           Istilah Mazmur dalam LXX adalah psalmoi. Kata Yunani (dari kata kerja psallo yang artinya “memetik atau mendentingkan”) mula-mula digunakan untuk permainan alat musik petik. Kemudian kata ini menunjukkan nyanyian (psalmos) atau kumpulan nyanyian (psalterion).[5] Dalam bahasa Ibrani ada kata mizmor yang artinya “sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan musik”, namun judul kitab mazmur dalam bahasa Ibrani adalah tehillim artinya “puji-pujian” atau “nyanyian pujuian”.[6]
              Kitab Mazmur adalah kumpulan dari seratus lima puluh nyanyian, doa dan syair yang berbeda. Karena itu, kitab ini tampaknya tidak mempunyai struktur yang jelas.[7] Namun, ada kumpulan yang lebih kecil di dalam keseluruhan bagian yang lebih besar (lihat. 72:20). Selain itu, penutup ayat yang sama, “amin”, tampaknya menjadi pembagi kitab Mazmur ke dalam lima jilid yang lebih kecil (41:14, 72:19, 89:53 dan 106:48).[8]
          Ada berbagai jenis mazmur, antara lain:
1.      Nyanyian pujian  Allah, Mazmur. 8; 19; 46; 100; 103; 150
2.      Doa keluhan dan syafaat (memohon pertolongan atau pengampunan) umat dan pribadi, Mazmur. 74; 79; 80 dan Mazmur. 22; 38; 42-43; 51; 139
3.      Nyanyian syukur (karena pertolongan Allah), Mazmur. 9; 23; 30; 34; 66
4.      Mazmur kerajaan Tuhan sebagai Raja, Raja Israel dan Raja Mesias, Mazmur. 93; 97; 45; 72; 2;110
5.      Mazmur hikmat, (sanjak pengajaran), Mazmur. 1; 32; 49, 78
6.      Nyanyian ziarah (arak-arakan), Mazmur. 84; 122.[9]

Susunan yang ada sekarang dari Kitab Mazmur jelas menunjukkan garis besarnya sendiri:
-          Jilid I. Mazmur 1-41
-          Jilid II. Mazmur 42-72
-          Jilid III. Mazmur 73-89
-          Jilid IV. Mazmur 90-106
-          Jilid V. Mazmur 107-150.

       B.     PEMBAHASAN
        Mazmur ini, yang bersumber dalam pikiran Tuhan dan diilhamkan oleh Roh Kudus, mengungkapkan perhatian dan pemeliharaan-Nya yang tekun atas mereka yang mengikut Dia. Mereka merupakan sasaran kasih ilahi yang sangat dihargai-Nya. Dia mempedulikan masing-masing mereka sebagaimana seorang ayah mempedulikan anak-anaknya dan seorang gembala domba-dombanya. Pernyataan iman yang kuat ini telah menghalau dukacita, kesedihan, dan keraguan. Damai sejahtera, kepuasan, dan kepercayaan telah menjadi berkat bagi orang-orang yang ikut merasakan keyakinan luhur pe-mazmur. Kendati pun bahasanya sederhana dan maknanya jelas, tidak seorang pun mampu memahami seluruh pesan sang penyair atau memperbaiki keindahannya.
               Ayat 1-4. Allah sebagai gembala pribadi. Tuhan adalah gembalaku. Kata-kata ini di-latar belakangi oleh pengalaman panjang mempercayai Allah. Hubungan yang berharga antara bangsa Israel dengan Allah cocok sebagai suatu realisasi individu.[10] Gambaran tentang gembala yang setia merupakan suatu contoh pemeliharaan penuh perhatian dan penjagaan tak berkesudahan.[11] Secara naluri-ah , domba percaya bahwa gembala akan menyediakan segala yang diperlukan untuk hari esok. Dia membimbing ke tempat yang tenang dan menyegarkan, melewati pergumulan-pergumulan hidup, dan melalui tempat-tempat bahaya.[12] Dengan demikian gembala menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup dan melindungi dari rasa takut akan bahaya.
                Ayat 5-6. Allah sebagai Tuan Rumah yang Murah Hati. Engkau menyediakan hidangan. Pemazmur memperkenalkan dirinya sebagai tamu[13] terhormat di rumah Allah, menikmati keramahan yang merupakan ciri ke timuran.[14] Dia berada dalam perlindungan Allah. Kepalanya diurapi dengan minyak wangi. Setiap kebutuhannya dipuaskan secara penuh. Berdasarkan kepercayaan ini, setiap saat dari hidupnya akan penuh dengan berkat Allah yang limpah.[15] Berkat terbesar akan persekutuan akrab dengan Allah, melalui penyembahan yang terus menerus kepada Dia. Aku akan tinggal di rumah-Mu, yakni beserta-Mu; sama seperti Engkau menyertai aku (ayat 4; bdk. Mzm. 16:6-9; 27:5-6; 36:8-10).

      C.    KESIMPULAN
             Berdasarkan seluruh informasi yang telah dipaparkan diatas, maka kesimpulan yang diambil, yakni :
-          Allah adalah oknum yang tidak dapat dipisahkan dari hidup dan kehidupan orang percaya  (setia dan taat), karena Allah adalah mahakuasa dan pencipta umat manusia
-         Manusia adalah kawanan domba kesayangan Allah, hal ini dapat dikaitkan dengan posisi  bangsa Israel yang adalah umat pilihan Allah
-           Allah akan selalu berada pada pihak orang yang percaya kepadaNya, pernyataan tersebut    adalah janji dan telah menjadi bukti kesaksian iman bangsa Israel juga manusia di zaman  sekarang
-          Manusia harus me-nyandarkan dirinya secara penuh kepada Allah, karena hanya Allahlah  yang memiliki kuasa dan keberadaan yang lebih tinggi dari derajad manusia
-      Allah akan memelihara dan menganugerahkan berkat sukacita yang melimpah sebagai  upah atas kesetiaan dan ketaatan manusia, sebagai contoh : a. Kejayaan bangsa Israel  ketika mereka taat dan setia kepada Allah dan mereka menjadi tawanan atau hancur          ketika mereka mendukakan hati Allah
-       Allah akan menjadi tuan rumah dan manusia akan menjadi tamu istimewa jika manusia  dapat bertahan hingga akhir sampai pada akhirnya atau Allah akan melayani manusia di    tahta kerajaan sorga-Nya. Ungkapan tersebut adalah janji Allah dan menjadi pengharapan  iman semua orang percaya sepanjang sejarah dan janji itu dikuatkan dalam karya penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus sebagai bukti kasih-Nya.

DAFTAR PUSTAKA
Alkitab Edisi Studi. 2012. Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia.
Baker, David L. 2011. Mari mengenal PERJANJIAN LAMA. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Groenen OFM, C. 1992. Pengantar Kedalam Perjanjian Lama. Yogyakarta: Kanisius.
A Hubbard; F. W. Bush. S. Lasor; D. 2009. Pengantar Perjanjian Lama 2. Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Blommendaal, J. 2010. Pengantar kepada Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Pfeiffer, Charles F. & Harrison, Everett F (editor). 2009. Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2. Malang: Gandum Mas.


[1] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2011, hlm. 84. Jiwa ter-dalam seorang manusia atau suatu bangsa menyatakan diri melalui doanya. Pengalaman paling dasariah terjadi didalam doa yang keluar dari batin. Maka untuk mengenal jiwa dan hati orang-orang Israel perlulah orang mendengarkan doanya. Karenanya sangat penting membaca dan merenungkan kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitab. Sebab di dalamnya terkumpul doa dan sembahyang umat Israel sepanjang ratusan tahun. Lih. C. Groenen OFM, Pengantar Kedalam Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 218. 
[2] Alkitab Edisi Studi, Jakarta : LAI, 2012, hlm. 867.
[3] Ibid., hlm. 867.
[4] Ibid., hlm. 867.
[5] W. S. Lasor; D. A Hubbard; F. W. Bush, Pengantar Perjanjian Lama 2, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 41. Salah satu naskah Alkitab yang utama, Codex Alexandrius, menambahkan sebutan “Pemazmur” dengan memakai istilah Yunani Psalterion. Sekalipun demikian, alkitab bahsa Ibrani menyebutkan kitab  ini dengan nama Tehillim, yang artinya “Puji-pujian.” Di dalam sastra para rabi istilah ini kemudian diambil alih menjadi seper tehillim yang artinya “kitab puji-pujian.” Akar kata dari istilah Ibrani dan Yunani yang berarti memainkan alat musik. Seiring dengan waktu istilah tersebut menjadi berarti bernyanyi dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan dengan menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi. Lih. Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2, Gandum Mas, 2009, hlm. 108.
[6] Ibid., hlm. 41.
[7] Sekalipun kitab mazmur tampaknya tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti bahwa mazmur-mazmur yang tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti. Sekalipun pokok pembahasan-nya tidak teratur, sistem pengaturan yang diikuti-nya jauh lebih jelas. Kitab ini dibagi menjadi lima bagian yang terdiri atas kumpulan sejumlah mazmur. Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir Mazmur Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai kelima Kitab Taurat. Jadi mungkin para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk memparalelkan lima tanggapan umat ini dengan lima panggilan Allah. Lih. Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2, Gandum Mas, 2009, hlm. 109.
[8] Alkitab Edisi Studi, Jakarta : LAI, 2012, hlm. 868. Di dalam kitab Mazmur terdapat seratus lima puluh buah mazmur. Demikian juga dalam Septuaginta terdapat jumlah yang sama, tetapi dengan susunan yang berbeda: misalnya mazmur 9, 10 digabungkan menjadi satu mazmur saja, yaitu mazmur 9. Hal yang sma pula terjadi dengan mazmur 114 dan 115. Akan tetapi di pihak lain, mazmur 116 dan mazmur 147 masing-masing dibagi menjadi dua bagian, sehingga akhirnya kembali terdapat jumlah 150 buah lagi. Lih. J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010, hlm. 147.
[9] Bdk. Pembagian pengelompokan yang dilakukan oleh Gunkel dalam lima jenis utama dan sejumlah jenis minor. Lih. Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2, Gandum Mas, 2009, hlm. 117.
[10] Orang percaya adalah domba-domba Tuhan. Kita adalah milik-Nya dan menjadi sasaran khusus kasih sayang dan perhatian-Nya. Sekalipun "kita sekalian sesat seperti domba" (Yes 53:6), Tuhan telah menebus kita dengan darah-Nya yang tercurah (1Pet 1:18-19), dan kini kita menjadi milik-Nya. Selaku domba-domba Allah kita dapat menagih janji-janji mazmur ini waktu kita menanggapi suara-Nya dan mengikut Dia (lih.Yoh 10:3-5).
[11] Dengan mempergunakan metafora yang sering terdapat dalam PL (lih.  Mazm 28:9; 79:13; 80:2; 95:7; Yes 40:11; Yer 31:10; Yeh 34:6-19), Allah menyamakan diri-Nya dengan seorang gembala untuk melukiskan kasih-Nya yang besar bagi umat-Nya. Tuhan Yesus sendiri menggunakan metafora yang sama untuk menyatakan hubungan-Nya dengan umat-Nya (Yoh 10:11-16; bd. Ibr 13:20; 1Pet 5:4; Wahy 7:17).
[12] Allah, melalui Kristus dan oleh Roh Kudus, demikian memperhatikan setiap anak-Nya sehingga Ia ingin mengasihi, memelihara, melindungi, membimbing, dan dekat dengan anak itu, sebagaimana dilakukan oleh seorang gembala yang baik dengan domba-dombanya sendiri.
[13] Perjamuan disediakan, hidangan disiapkan, kepalanya diurapai dengan minyak zaitun, sesuai dengan adat kebiasaan pada hari raya (bdk. Pkh. 9:8; Mzm. 133:2; Mat. 26:7; adat yang sama dikenal di Mesir kuno) dan pialanya diisi berulang-ulang dengan anggur, sehingga berlimpah (bdk. Pkh. 9:7; Mzm. 36:9).
[14] Perjamuan yang disediakan Allah sebagai tuan rumah itu melambangkan kebahagiaan di zaman Mesias. Sejak dahulu kala tradisi Kristen menghubungkan mazmur ini dengan sakramen baptisan dan dengan sakramen perjamuan Tuhan.
[15] Allah yang berusaha karena orang kesayangan-Nya sedang dalam kondisi penuh pengharapan. Hal  ini lebih dapat dirasakan didaerah kering seperti Palestina. Allah berlaku sebagai gembala yang baik (Maz 23:1-4) dan selaku tuan-rumah jang murah (Maz 23:5-6).

Tidak ada komentar:

Posting Komentar