TUHAN, Gembalaku
yang Baik(Mazmur 23:1-6)
Mazmur
Daud. (1) TUHAN adalah gembalaku, takkan kekurangan aku. (2) Ia membaringkan
aku di padang yang berumput hijau, Ia membimbing aku ke air yang tenang; (3) Ia
menyegarkan jiwaku. Ia menuntun aku di jalan yang benar oleh karena nama-Nya.
(4) Sekalipun aku berjalan dalam lembah kekelaman, aku tidak takut bahaya,
sebab Engkau beserta-ku; gada-Mu dan tongkat-Mu, itulah yang menghibur aku. (5) Engkau
menyediakan hidangan bagiku, di hadapan lawanku; Engkau mengurapi kepalaku
dengan minyak; pialaku penuh melimpah. (6)Kebajikan dan kemurahan belaka akan
mengikuti aku, seumur hidupku; dan aku akan diam dalam rumah TUHAN sepanjang
masa.
A.
LATAR
BELAKANG
Kitab Mazmur merupakan kumpulan nyanyian
rohani, doa dan lagu-lagu atau sajak keagamaan. Mazmur-mazmur itu ditulis
selama ratusan tahun oleh bayak pengarang, termasuk Raja Daud, untuk dibaca
atau dinyanyikan oleh orang Israel sewaktu beribadat.[1]
Ada mazmur yang mungkin ditulis diawal sejarah Israel ,tetapi adapula yang
ditulis sesudah masa pembuangan di Babel.[2]
Tujuh pulu tiga mazmur menyebutkan Daud sebagai penulisnya.[3]
Daud adalah raja yang memerintah Israel sekitar 1010-970 SM[4]
Istilah Mazmur dalam LXX adalah psalmoi. Kata Yunani (dari kata kerja psallo yang artinya “memetik atau
mendentingkan”) mula-mula digunakan untuk permainan alat musik petik. Kemudian
kata ini menunjukkan nyanyian (psalmos) atau kumpulan nyanyian (psalterion).[5]
Dalam bahasa Ibrani ada kata mizmor
yang artinya “sebuah nyanyian yang dinyanyikan dengan iringan musik”, namun
judul kitab mazmur dalam bahasa Ibrani adalah tehillim artinya “puji-pujian”
atau “nyanyian pujuian”.[6]
Kitab Mazmur adalah kumpulan dari
seratus lima puluh nyanyian, doa dan syair yang berbeda. Karena itu, kitab ini
tampaknya tidak mempunyai struktur yang jelas.[7]
Namun, ada kumpulan yang lebih kecil di dalam keseluruhan bagian yang lebih
besar (lihat. 72:20). Selain itu, penutup ayat yang sama, “amin”, tampaknya
menjadi pembagi kitab Mazmur ke dalam lima jilid yang lebih kecil (41:14,
72:19, 89:53 dan 106:48).[8]
Ada berbagai jenis mazmur, antara
lain:
1. Nyanyian
pujian Allah, Mazmur. 8; 19; 46; 100; 103;
150
2. Doa
keluhan dan syafaat (memohon pertolongan atau pengampunan) umat dan pribadi,
Mazmur. 74; 79; 80 dan Mazmur. 22; 38; 42-43; 51; 139
3. Nyanyian
syukur (karena pertolongan Allah), Mazmur. 9; 23; 30; 34; 66
4. Mazmur
kerajaan Tuhan sebagai Raja, Raja Israel dan Raja Mesias, Mazmur. 93; 97; 45; 72;
2;110
5. Mazmur
hikmat, (sanjak pengajaran), Mazmur. 1; 32; 49, 78
6. Nyanyian
ziarah (arak-arakan), Mazmur. 84; 122.[9]
Susunan yang ada sekarang dari Kitab
Mazmur jelas menunjukkan garis besarnya sendiri:
-
Jilid I. Mazmur 1-41
-
Jilid II. Mazmur 42-72
-
Jilid III. Mazmur 73-89
-
Jilid IV. Mazmur 90-106
-
Jilid V. Mazmur 107-150.
B.
PEMBAHASAN
Mazmur ini, yang bersumber dalam pikiran
Tuhan dan diilhamkan oleh Roh Kudus, mengungkapkan perhatian dan
pemeliharaan-Nya yang tekun atas mereka yang mengikut Dia. Mereka merupakan
sasaran kasih ilahi yang sangat dihargai-Nya. Dia mempedulikan masing-masing
mereka sebagaimana seorang ayah mempedulikan anak-anaknya dan seorang gembala
domba-dombanya. Pernyataan iman yang kuat ini telah menghalau dukacita,
kesedihan, dan keraguan. Damai sejahtera, kepuasan, dan kepercayaan telah
menjadi berkat bagi orang-orang yang ikut merasakan keyakinan luhur pe-mazmur.
Kendati pun bahasanya sederhana dan maknanya jelas, tidak seorang pun mampu
memahami seluruh pesan sang penyair atau memperbaiki keindahannya.
Ayat
1-4.
Allah sebagai gembala pribadi. Tuhan
adalah gembalaku. Kata-kata ini di-latar belakangi oleh pengalaman panjang
mempercayai Allah. Hubungan yang berharga antara bangsa Israel dengan Allah
cocok sebagai suatu realisasi individu.[10]
Gambaran tentang gembala yang setia merupakan suatu contoh pemeliharaan penuh
perhatian dan penjagaan tak berkesudahan.[11]
Secara naluri-ah , domba percaya bahwa gembala akan menyediakan segala yang
diperlukan untuk hari esok. Dia membimbing ke tempat yang tenang dan
menyegarkan, melewati pergumulan-pergumulan hidup, dan melalui tempat-tempat
bahaya.[12]
Dengan demikian gembala menyediakan kebutuhan-kebutuhan hidup dan melindungi
dari rasa takut akan bahaya.
Ayat
5-6. Allah sebagai Tuan Rumah yang Murah Hati. Engkau menyediakan hidangan. Pemazmur
memperkenalkan dirinya sebagai tamu[13]
terhormat di rumah Allah, menikmati
keramahan yang merupakan ciri ke timuran.[14]
Dia berada dalam perlindungan Allah. Kepalanya diurapi dengan minyak wangi.
Setiap kebutuhannya dipuaskan secara penuh. Berdasarkan kepercayaan ini, setiap
saat dari hidupnya akan penuh dengan berkat Allah yang limpah.[15]
Berkat terbesar akan persekutuan akrab dengan Allah, melalui penyembahan yang
terus menerus kepada Dia. Aku akan tinggal di rumah-Mu, yakni beserta-Mu; sama
seperti Engkau menyertai aku (ayat 4; bdk. Mzm. 16:6-9; 27:5-6; 36:8-10).
C.
KESIMPULAN
Berdasarkan seluruh informasi yang telah
dipaparkan diatas, maka kesimpulan yang diambil, yakni :
-
Allah adalah oknum yang tidak dapat
dipisahkan dari hidup dan kehidupan orang percaya (setia dan taat), karena
Allah adalah mahakuasa dan pencipta umat manusia
- Manusia adalah kawanan domba kesayangan
Allah, hal ini dapat dikaitkan dengan posisi bangsa Israel yang adalah umat
pilihan Allah
- Allah akan selalu berada pada pihak
orang yang percaya kepadaNya, pernyataan tersebut adalah janji dan telah
menjadi bukti kesaksian iman bangsa Israel juga manusia di zaman sekarang
- Manusia harus me-nyandarkan dirinya
secara penuh kepada Allah, karena hanya Allahlah yang memiliki kuasa dan
keberadaan yang lebih tinggi dari derajad manusia
- Allah akan memelihara dan menganugerahkan
berkat sukacita yang melimpah sebagai upah atas kesetiaan dan ketaatan manusia,
sebagai contoh : a. Kejayaan bangsa Israel ketika mereka taat dan setia kepada
Allah dan mereka menjadi tawanan atau hancur ketika mereka mendukakan hati
Allah
- Allah akan menjadi tuan rumah dan
manusia akan menjadi tamu istimewa jika manusia dapat bertahan hingga akhir
sampai pada akhirnya atau Allah akan melayani manusia di tahta kerajaan
sorga-Nya. Ungkapan tersebut adalah janji Allah dan menjadi pengharapan iman
semua orang percaya sepanjang sejarah dan janji itu dikuatkan dalam karya
penyelamatan Allah melalui Yesus Kristus sebagai bukti kasih-Nya.
DAFTAR PUSTAKA
Alkitab Edisi Studi. 2012.
Jakarta : Lembaga Alkitab Indonesia.
Baker, David L. 2011. Mari mengenal PERJANJIAN LAMA. Jakarta:
BPK Gunung Mulia.
Groenen OFM, C. 1992. Pengantar Kedalam Perjanjian Lama. Yogyakarta:
Kanisius.
A Hubbard; F. W. Bush. S. Lasor;
D. 2009. Pengantar Perjanjian Lama 2.
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Blommendaal, J. 2010. Pengantar kepada Perjanjian Lama,
Jakarta: BPK Gunung Mulia.
Pfeiffer, Charles F. & Harrison, Everett F (editor).
2009. Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2.
Malang: Gandum Mas.
[1] David L. Baker, Mari mengenal Perjanjian Lama, Jakarta:
BPK Gunung Mulia, 2011, hlm. 84. Jiwa ter-dalam seorang manusia atau suatu
bangsa menyatakan diri melalui doanya. Pengalaman paling dasariah terjadi
didalam doa yang keluar dari batin. Maka untuk mengenal jiwa dan hati
orang-orang Israel perlulah orang mendengarkan doanya. Karenanya sangat
penting membaca dan merenungkan kitab Mazmur yang tercantum dalam Alkitab.
Sebab di dalamnya terkumpul doa dan sembahyang umat Israel sepanjang ratusan
tahun. Lih. C. Groenen OFM, Pengantar
Kedalam Perjanjian Lama, Yogyakarta: Kanisius, 1992, hlm. 218.
[2] Alkitab Edisi Studi, Jakarta :
LAI, 2012, hlm. 867.
[3] Ibid., hlm. 867.
[4] Ibid., hlm. 867.
[5] W. S. Lasor; D. A Hubbard; F. W.
Bush, Pengantar Perjanjian Lama 2,
Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2009, hlm. 41. Salah satu naskah Alkitab yang utama,
Codex Alexandrius, menambahkan
sebutan “Pemazmur” dengan memakai istilah Yunani Psalterion. Sekalipun
demikian, alkitab bahsa Ibrani menyebutkan kitab ini dengan nama Tehillim, yang artinya “Puji-pujian.” Di dalam sastra para rabi
istilah ini kemudian diambil alih menjadi seper tehillim yang artinya “kitab
puji-pujian.” Akar kata dari istilah Ibrani dan Yunani yang berarti memainkan
alat musik. Seiring dengan waktu istilah tersebut menjadi berarti bernyanyi
dengan iringan alat musik, sebuah ciri dalam ibadah Israel yang dipopulerkan
dengan menyanyikan lagu-lagu kaum Lewi. Lih. Charles F. Pfeiffer & Everett
F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab
Wycliffe Volume 2, Gandum Mas, 2009, hlm. 108.
[6] Ibid., hlm. 41.
[7] Sekalipun kitab mazmur tampaknya
tidak memiliki perencanaan, itu tidak berarti bahwa mazmur-mazmur yang
tercantum di dalamnya tidak disusun secara pasti. Sekalipun pokok pembahasan-nya
tidak teratur, sistem pengaturan yang diikuti-nya jauh lebih jelas. Kitab ini
dibagi menjadi lima bagian yang terdiri atas kumpulan sejumlah mazmur. Menurut Midrash on the Psalms, sebuah tafsir
Mazmur Yahudi kuno, pembagian menjadi lima jilid dibuat sesuai kelima Kitab Taurat.
Jadi mungkin para penyusun kitab ini sejak semula memiliki maksud untuk
memparalelkan lima tanggapan umat ini dengan lima panggilan Allah. Lih. Charles
F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2, Gandum Mas, 2009, hlm. 109.
[8] Alkitab Edisi Studi, Jakarta : LAI, 2012, hlm. 868. Di dalam kitab
Mazmur terdapat seratus lima puluh buah mazmur. Demikian juga dalam Septuaginta
terdapat jumlah yang sama, tetapi dengan susunan yang berbeda: misalnya mazmur
9, 10 digabungkan menjadi satu mazmur saja, yaitu mazmur 9. Hal yang sma pula
terjadi dengan mazmur 114 dan 115. Akan tetapi di pihak lain, mazmur 116 dan
mazmur 147 masing-masing dibagi menjadi dua bagian, sehingga akhirnya kembali
terdapat jumlah 150 buah lagi. Lih. J. Blommendaal, Pengantar kepada Perjanjian Lama, Jakarta: BPK Gunung Mulia, 2010,
hlm. 147.
[9] Bdk. Pembagian pengelompokan
yang dilakukan oleh Gunkel dalam lima jenis utama dan sejumlah jenis minor.
Lih. Charles F. Pfeiffer & Everett F. Harrison (editor), Tafsiran Alkitab Wycliffe Volume 2,
Gandum Mas, 2009, hlm. 117.
[10] Orang
percaya adalah domba-domba Tuhan. Kita adalah milik-Nya dan menjadi sasaran
khusus kasih sayang dan perhatian-Nya. Sekalipun "kita sekalian sesat
seperti domba" (Yes 53:6), Tuhan telah menebus kita dengan darah-Nya yang
tercurah (1Pet 1:18-19), dan kini kita menjadi milik-Nya. Selaku domba-domba
Allah kita dapat menagih janji-janji mazmur ini waktu kita menanggapi suara-Nya
dan mengikut Dia (lih.Yoh 10:3-5).
[11]
Dengan mempergunakan metafora yang sering terdapat dalam PL (lih. Mazm 28:9; 79:13; 80:2; 95:7; Yes 40:11; Yer
31:10; Yeh 34:6-19), Allah menyamakan diri-Nya dengan seorang gembala untuk
melukiskan kasih-Nya yang besar bagi umat-Nya. Tuhan Yesus sendiri menggunakan
metafora yang sama untuk menyatakan hubungan-Nya dengan umat-Nya (Yoh 10:11-16;
bd. Ibr 13:20; 1Pet 5:4; Wahy 7:17).
[12]
Allah, melalui Kristus dan oleh Roh Kudus, demikian memperhatikan setiap
anak-Nya sehingga Ia ingin mengasihi, memelihara, melindungi, membimbing, dan
dekat dengan anak itu, sebagaimana dilakukan oleh seorang gembala yang baik
dengan domba-dombanya sendiri.
[13] Perjamuan disediakan, hidangan disiapkan, kepalanya
diurapai dengan minyak zaitun, sesuai dengan adat kebiasaan pada hari raya
(bdk. Pkh. 9:8; Mzm. 133:2; Mat. 26:7; adat yang sama dikenal di Mesir kuno)
dan pialanya diisi berulang-ulang dengan anggur, sehingga berlimpah (bdk. Pkh.
9:7; Mzm. 36:9).
[14]
Perjamuan yang disediakan Allah sebagai tuan rumah itu melambangkan kebahagiaan
di zaman Mesias. Sejak dahulu kala tradisi Kristen menghubungkan mazmur ini
dengan sakramen baptisan dan dengan sakramen perjamuan Tuhan.
[15] Allah yang berusaha karena orang
kesayangan-Nya sedang dalam kondisi penuh pengharapan. Hal ini lebih dapat dirasakan didaerah kering
seperti Palestina. Allah berlaku sebagai gembala yang baik (Maz 23:1-4) dan
selaku tuan-rumah jang murah (Maz 23:5-6).
Tidak ada komentar:
Posting Komentar