Wikipedia

Hasil penelusuran

Sabtu, 30 April 2016

GEREJA YANG HIDUP

GEREJA SEBAGAI PUSAT KEHIDUPAN

Setia kawan, rasa persaudaraan, saling berbagi, adalah makna yang identik dengan slogan diatas. Kata ‘satu untuk semua dan semua untuk satu’ selalu membayangi kehidupan dalam komunitas hidup manusia yang menjun-jung tinggi makna tersebut. Sehingga suatu komunitas dapat bertahan dan menjadi kuat, tanpa harus takut tercerai-berai.
            Fokus utama adalah ‘rasa’ yang ada antara sesama manusia, dan memberi dengan ‘tulus’ tanpa mengharapkan imbalan. Komunitas yang baik, dapat membentuk karakter yang baik secara holistik. Menekankan nilai-nilai kebajikan (kemurahan dan belas kasihan), jiwa kepahlawanan, dan perasaan malu ketika tidak mampu berbuat kebaikan terhadap orang lain.
            Gereja saat ini tidak boleh hanya fokus pada komunitasnya saja, dan kurang perhatian terhadap dunia di luar dinding-dinding mereka. Gereja tidak lagi menjadi komunitas yang membentuk karakter secara holistik, karena untuk menolong orang saja, harus menempuh jalur birokrasi yang kaku dan membelenggu. Gereja saat ini menjadi komunitas yang menjaga batas-batas dan bukan melintasinya, juga menjadi konservatif dan tidak progresif (H. R. Niebuhr).

  • Gereja harus sadar, bahwa prioritas utama mengikut Kristus adalah menghadirkan Kerajaan Allah bagi semua orang, dan bukan dibatasi di dalam komunitas sendiri.
  • Injil tidak hadir untuk membumi hanguskan, melainkan memperdamaikan. Sehingga, Injil tidak digunakan sebagai alat untuk mengukur benar atau salah, tetapi untuk memberikan pencerahan.
  • Sudah saatnya Gereja terbuka terhadap dunia luar, dan meninggalkan sifat-sifat konservatif yang justru menggiring kearah paham tradisional yang eksklusif.

Monoteisme

DUA PANDANGAN MONOTEISME 

Pandangan Frans Donald
Echad bukan kesatuan [himpunan]. Echad adalah numerik, satu benar-benar satu. Echad muncul sebagai penerjemahan satu numerik, hanya satu (only), sendiri (alone), tunggal (undivided), satu-satunya (only single) (Theological Dictionary of the Old Testamen, Grand Rapids: Erdmans, 1974, jilid 1:194). Sebagai bukti kata ‘echad’ dipakai pula dalam Yoshua 12:9-24 “Raja negeri Yerikho, satu [echad]; raja negeri Yerusalem, satu [echad]; raja negeri Hebron, satu [echad]; raja negeri Yumut, satu [echad]; .... jadi jumlah semua raja itu tiga puluh satu orang”.
Dalam kata diatas jelas kata ‘echad’ dipakai untuk merinci daftar raja yang dikalahkan Yoshua, maka jelas disitu kata ‘echad’ memiliki arti ‘satu’ dalam numerik/matematis hingga bisa disebutkan jumlah keseluruhan raja-raja tersebut ‘tigapuluh satu orang’.
Echad benar-benar “satu” dalam numerik/matematis. Dalam bahasa Ibrani: satu adalah echad, dua adalah sh’nayim, tiga adalah shalosh, empat adalah arba, dan seterusnya. Semua buku tata bahasa Ibrani, baik Alkitabiah atau modern, selalu menunjukkan bahwa echad adalah kata Ibrani sehari-hari untuk “satu”. Beberapa contoh penggunaan kata “satu” yang diterjemahkan dari kata echad:
“Satu tempat” (Kej. 1:9), “Satu ayah” (Kej. 42:13), “Satu hukum” (Kel. 12:49), “Satu [sisi]” (Kel. 25:12), “Satu log minyak” (Imamat 14:10), “Satu orang diantara saudara-saudaranya” (Imamat 25:48), “Satu tongkat” (Bil. 17:3), “Satu..... manusia, lembu, keledai, kambing” (Bil. 31:28), “salah Satu kota itu” (Ul. 4:42), “Satu orang saksi” (Ul. 17:6), “Satu jalan” (Ul. 28:7), “Satu efa tepung” (1Samuel 1:24), “Satu gembala” (Yeh 37:24), “Satu keranjang” (Yer 24:2), “Satu hal” (Maz. 27:4), “dua lebih baik daripada satu” (Pengkotbah 4:9), “Satu hari” (Ezra 10:13). Kata “Satu” pada ayat-ayat tersebut jelas sekali membuktikan echad berarti satu, tunggal, hanya satu.

Memang kata ‘echad’ dapat dipakai untuk menunjukkan himpunan, misalnya: “satu suku” yang artinya terdiri dari beberapa manusia, tetapi [kita harus teliti dan cermat] di situ yang dimaksudkan ‘satu’ adalah “satu suku”, bukan dua suku atau tiga suku. Sukunya sendiri Cuma satu. Dalam “satu suku” tidak mungkin terdiri dari beberapa suku. Demikian halnya dalam kasus “satu allah” tidaklah terdiri dari beberapa allah. Dan bagi orang Yahudi yang mempunyai pola pikir kongkret, satu ya satu, tidak ada ide abstrak tiga tapi satu-satu.
Sekarang soal kata “Elohiym”, secara umum akhoran –im merupakan bentuk plural. Pertannyaan yang muncul: apakah ini tidak menunjukkan allah itu lebih dari satu? Secara umum benar bahwa akhiran –im biasanya mengindikasikan kemajemukan tetapi ada akhiran –im yang tidak mengacu kepada kemajemukan melainkan keagungan (kebesaran), misalnya akhiran –im pada Panim (wajah), mayim (air), chayyim (hidup) atau Shamayim (langit).
Jadi bentuk –im yang mengacu kepada keagungan (majestic pluralistic) adalah bentuk plural yang bermakna tunggal. Keagungan/kemuliaan/kebesaran, bukan himpunan atau kesatuan.
Sebagai bukti pula, pertama, Musa di dalam keluaran 7:1 disebut sebagai elohiym (allah) artinya Musa adalah nabi agung mulia (besar) dan sebagai elohiym tentu tidak berarti seorang Musa terdiri dari beberapa orang Musa, bukan? Artinya jelas tunggal.
Kedua, selain kepada Musa, kata elohiym juga dipakai untuk menunjuk sosok lain yang jelas berarti tunggal. Misalnya: dewa-dewi bangsa-bangsa sekitar Israel. Dagon (Dewa ikan bangsa Filistin (Hakim 16:23-24; 1Samuel 5:7), Kamos (dewa bangsa Amon dan Moab (Hakim 11:24; 1Raja 11:33), Asytoret (dewi bangsa Sidon (1Raj 11:33), Milkom (dewa bangsa Amoni (Raja 11:33) dan Nisrokh (dewa manusia kepala elang bangsa Asyur (2Raja 19:37), masing-masing dewa tersebut jelas disebut sebagai elohiym yang sosoknya jelas-jelas tunggal, bukan jamak!
Ketiga: karena bahasa Ibrani juga mengenal perbedaan kata kerja bentuk tunggal dan bentuk jamak, ada satu fakta yang jelas bisa kita lihat dalam Perjanjian Lama tentang elohiym. Setiap kata ini muncul menunjuk kepada YHWH (Allah sejati), kata-kata kerja yang membarenginya selalu bentuk tunggal. Misalnya dalam Kejadian 1:1, dituliskan bara elogiym (Allah menciptakan). Kata kerja bara dengan pasti menunjuk sosok yang tunggal. Jadi, jelas para penulis Perjanjian Lama tahu betul bahwa YHWH bukanlah elohiym yang berpribadi majemuk.
Keempat: para penerjemah Perjanjian Lama pun tahu bahwa elohiym tidak selalu berarti banyak allah, apa lagi kalau mengacu kepada Allah sejati (YHWH). Terbukti, Kejadian 1:1 diterjemahkan “pada mulanya Allah menciptakan langit dan bumi”, bukan “pada mulanya Allah –Allah menciptakan langit dan bumi. Elohiym yang diterjemahkan menjadi Allah (bukan Allah-Allah) kita jumpai disepanjang Perjanjian Lama.

Pandangan Karen Armstrong
Inti kitab Ulangan mencakup deklarasi yang kemudian menjadi kesaksian iman orang-orang Yahudi:
Dengarkan [shema], hai orang Israel! TUHAN adalah Allah ktia, TUHAN itu esa [echad]! Kasihanilah TUHAN, Allahmu, dengan segenap hatimu dan dengan segenap jiwamu dan dengan segenap kekuatanmu. Apa yang kuperintahkan kepadamu hari ini haruslah engkau perhatikan.

Ketika menyebut kembali Shema pada masa sekarang, orang Yahudi memberinya interpretasi monoteistik: Yahweh Allah kami yang Satu dan unik. Tradisi Deutronomis belum lagi mencapai persepektif ini. “Yahweh ehad” tidak berarti Allah itu esa, tetapi Yahweh adalah satu-satunya allah yang diizinkan untuk disembah. Tuhan-tuhan lain masih merupakan sebuah ancaman: pemujaan mereka sangat atraktif dan bisa memalingkan orang Israel dari Yahweh, Tuhan yang pencemburu. Jika mereka mematuhi hukum-hukum Yahweh, dia akan memberkati mereka dan menganugrahkan kesejahteraan, tetapi jika mereka berkhianat, akibatnya akan sangat merusak:
TUHAN akan menyerakkan engkau ke antara segala bangsa dari ujung bumi ke ujung bumi; di sanalah engkau akan beribadah kepada allah lain yang tidak dikenal olehmu ataupun oleh nenek moyangmu, yakni kepada kayu dan batu... Hidupmu akan terkatung-katung... Pada waktu pagi engkau akan berkata: Ah, kalau malam sekarang! Dan pada waktu malam engkau akan berkata: Ah, kalau pagi sekarang! Karena kejut memenuhi hatimu, dan karena apa yang dilihat matamu.

Setiap doktrin resmi akan membatasi misteri Tuhan yang esensial. Para rabi menunjukkan bahwa Tuhan sama sekali tidak bisa dipahami. Bahkan, Musa juga tidak mampu menembus misteri Tuhan: setelah mencarian yang panjang, Raja Daud mengakui bahwa adalah sia-sia untuk mencoba memahami Tuhan karena dia terlalu agung bagi pikiran manusia. Orang Yahudi bahkan dilarang mengucapkan namanya. Ini untuk mengingatkan bahwa apa pun usaha untuk mengungkapkan Tuhan pasti tidak akan memadai: nama suci itu ditulis YHWH dan tidak dilafalkan dalam setiap pembacaan kitab suci. Keseluruhan gagasan tentang Tuhan adalah untuk memotivasi lahirnya rasa tentang misteri dan ketakjuban hidup, bukan untuk meraih solusi yang sejati.

DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Alkitab Indonesia. 2011. Teks Alkitab Terjemahan Baru (TB). Jakarta: cetakan ke- 3.
Donald, Frans. 2009. Menjawab Doktrin Tritunggal. Semarang: Borobudur Indonesia Publishing.
Armstrong, Karen. 1993. Sejarah Tuhan. Bandung: PT. Mizan Pustaka.

Gelar-Gelar Yesus

GELAR-GELAR YESUS

Gelar: 1 sebutan kehormatan, kebangsawanan, atau kesarjanaan yg biasanya ditambahkan pada nama orang spt raden, tengku, doktor, sarjana ekonomi; 2 nama tambahan sesudah nikah atau setelah tua (sbg kehormatan): ia diberi – “Sutan”; 3 sebutan (julukan) yg berhubungan dng keadaan atau tabiat orang; sebutan: krn gendut, ia mendapat -- si gendut; ia mendapat – “Srikandi” dr kawan-kawannya; (KBBI offline 1.3).

Nama n 1 kata untuk menyebut atau memanggil orang (tempat, barang, binatang, dsb): -- anjing itu Miki; 2 gelar; sebutan: dikaruniai -- Adipati; -- nya saja pegawai tinggi, tetapi kekuasaannya tidak ada; 3 kemasyhuran; kebaikan (keunggulan); kehormatan: ia beroleh (mendapat) --;menodai -- orang tua, ki merusak harga diri orang tua; telah rusak -- nya, ki telah hilang kebaikannya; menjaga -- baik, ki menjaga harga diri; (KBBI offline 1.3).

IA MEMPUNYAI NAMA-NAMA MANUSIA
Ia memiliki banyak nama manusia. Nama “Yesus”, yang berarti “Juruselamat” (Matius 1:21), adalah kata Yunani untuk nama “Yoshua” di Perjanjian Lama (bdk. Kis 7:45; Ibrani 4:8). Ia disebut “anak Abraham” (Mat 1:1) dan “anak Daud”. Nama “anak Daud” sering kali muncul dalam Injil Matius (1:1; 9:27; 12:23; 15:22; 20:30, 31; 21:9, 15). Nama “Anak Manusia” terdapat lebih dari 80 kali dalam Perjanjian Baru. Nama ini berkali-kali dipakai untuk Nabi Yehezkiel (2:1; 3:1, 4:1, dan seterusnya), dan sering kali Daniel (8:17). Nama ini dipakai ketika bernubuat tentang Kristus dan Daniel 7:13 (bdk. Mat 16:28). Nama ini dianggap oleh orang-orang Yahudi sebagai mengacu kepada Mesias. Hal ini jelas dari kenyataan bahwa imam besar merobek jubahnya ketika Kristus menerapkan nubuat Daniel ini kepada diri-Nya sendiri (Luk 26:64, 65). Orang-orang Yahudi memahami bahwa istilah ini menunjuk kepada Mesias (Yoh 12:34), dan menyebut Kristus itu Anak Manusia adalah sama dengan menyebut Dia Anak Allah (Luk 22:69, 70). Ungkapan ini bukan saja menunjukkan bahwa Ia adalah benar-benar manusia, tetapi bahwa Ia juga wakil seluruh umat manusia (bdk. Ibrani 2:6-9).

   1.     Yesus
Dalam bahasa Ibrani nama Yosua atau Yehosua, yang diyunanikan menjadi Yesus, berarti “Yahwe adalah pertolonganku” atau “Yahwe adalah penyelamat” atau “pertolongan Yahweh”. Matius 1:21 mencatat hal itu: “.... engkau akan menamakan Dia Yesus, karena Dialah yang akan menyelamatkan Umat-Nya dari dosa mereka.” Nama-Nya sudah menunjukkan bahwa Ia adalah penyelamat. Ia adalah Utusan Allah, Penyelamat ilahi, yang membebaskan manusia dari kuasa dosa. Inilah makna nama yang diakui oleh orang Yahudi.

   2.     Manusia
Dalam surat Pastoral yang berasal dari zaman kemudian dan diwarnai oleh pikiran maju tentang Yesus juga dikatakan, “Karena Allah itu esa dan esa pula Dia yang menjadi pengantara antara Allah dan manusia, yaitu manusia (anthropos) Kristus Yesus” (1Tim 2:5). Yesus bukan orang yang setengah-setengah, campuran manusia dewa, seperti dalam wayang. Ia manusia paripurna, tanpa berkurang kemanusiaan-Nya. Memang Ia berwibawa ilahi tetapi tidak kurang manusiawi. Ia tampil sungguh manusiawi, sehingga orang-orang secara spontan menyebut-Nya orang.

   3.     Tuhan
Nama lain yang disebutkan di Luk. 2:11 adalah Tuhan. Kata “Tuhan” di dalam bahasa Yunani adalah “kyrios”, yang berarti “tuan” sebagai lawan dari “hamba” atau “budak”. Seorang tuan adalah seorang yang memiliki budaknya karena budak itu telah dibelinya. Jikalau Kepada Perjanjian disebut Tuhan, hal itu berarti, bahwa Ia memiliki para orang yang percaya kepada-Nya, sebagai seorang tuan yang memiliki para budaknya. Ia telah membeli para orang beriman dengan harga yang telah lunas dibayar (1 Kor. 6:20; 7:23), bukan dengan perak atau emas, melainkan dengan darah yang mahal ( 1 Ptr. 1:18, 19).
Sebutan ini diberikan kepada Juru Selamat itu setelah Ia menyelesaikan karya penyelamatan-Nya, dengan bangkit dari antara orang mati. Maka Fil. 2:11 disebutkan, bahwa Allah telah meninggalkan Dia, supaya segala lidah mengaku: “Yesus Kristus adalah Tuhan”, bagi kemulian Allah Bapa.

   4.     Anak Daud
Yesus memang anak Daud, bukan terutama karena hubungan darah yang tidak bisa dipastikan, melainkan karena hubungan pribadi, kaliber diri-Nya. Ia adalah Anak Daud karena harapan Mesias yang tertumpu dalam pribadi itu, dan kepenuhan harapan karena kepenuhan pribadi-Nya. Kepenuhan itu bukan karena kekuasaan dan kekuatan senjata, sehingga Ia menempatkan lawan-lawan di bawah telapak kaki-Nya, melainkan karena kuat kuasa kasih-Nya yang menimbulkan ketentraman dan ketenangan hati. Anak Daud, memang sebutan Yesus, sebutan yang paling Yahudi. Yesus menerima sebutan itu, karena memang Ia layak disebut demikian, tetapi Ia sebetulnya lebih dari itu. Ia berdiri besar dari Daud, seperti pernah dinyatakan bahwa yang ada disini lebih dari pada Salomo (bdk. Luk 11:31).

   5.     Anak Manusia
Gelar Anak Manusia merupakan gelar favorit pribadi Yesus. Gelar ini muncul 82 kali dalam Perjanjian Baru dan hampir seluruhnya dalam Injil. Sekali saja ditemukan dalam Kisah Rasul 7:56. Dan hampir semua, kecuali dua kali, gelar itu terungkap dari mulut Yesus (bdk. Yoh 12:34). Dalam bahasa Aram “Anak Manusia” (bar-nasya) tidak digunakan sebagai gelar, melainkan sebutan biasa yang berarti “orang”, anggota umat manusia. Gelar Anak Manusia dikenakan pada Yesus guna mengingatkan proses perjuangan, dan digunakan sedemikian rupa untuk mengejutkan para pendengar-Nya. Yesus sendiri tentu tahu bahwa kemuliaan yang diberikan Bapa akan dikembalikan pada-Nya. Ia tahu bahwa kemulian itu dikembalikan lewat jalan penderitaan yang menjadi tanda setia kepada Bapa dan tanda setia ini harus ditempuh-Nya. Sebagai hamba Allah Ia harus menderita sebagai manusia. Sebagai anak manusia akhirnya Ia mulia. Gelar anak manusia sekaligus menunjukkan kemuliaan dan kerendahan tuntas Yesus Kristus.

   6.     Anak Allah
Injil Markus dibuka dengan pernyataan: “Inilah permulaan Injil Yesus Kristus, Anak Allah” (1:1). Dalam 1 Yoh 4:15 juga ditulis: “Barangsiapa mengakui, bahwa Yesus adalah Anak Allah, Allah tetap berada di dalam Dia dan Dia di dalam Allah”. Siapakah yang mengalahkan dunia, selain dari pada dia yang percaya, bahwa Yesus adalah Anak Allah” (1 Yoh 5:5). Ia menyatakan bahwa Allah adalah Bapa-Nya sendiri dan dengan demikian menyamatakan diri-Nya dengan Allah (5:18).

   7.     Mesias
Kata Mesias berasal dari kata kerja masyah yang berarti mengurapi. Maka Mesias berarti sang terurapi. Di antara orang Yahudi, pengurapan dihubungkan dengan tiga macam orang. Pertama, dihubungkan dengna nabi. Elia diperintah agar mengurapi Elisa sebagai nabi, menggantikan kedudukan dan peranannya (1Raja 19:16). Merupakan tuntutan nabi bahwa Roh Allah ada padanya, karena Allah mengurapi dia untuk mewartakan kabar baik (Yes 61:1). Kedua, pengurapan dihubungkan dengan Imam. Allah memerintahkan imam-imam diurapi dan disucikan sehingga pantas menjadi pelayan bagi-Nya (Kel 28:41). Ketiga, pengurapan terutama dihubungkan dengan raja. Dalam perumpamaan Yotam dikisahkan bahwa pohon keluar untuk mengurapi raja (Hak 9:8).
            Ketika Andreas bertemu Yesus, ia segera memberi tahu Simon, saudaranya, dengan pernyataan bahwa ia menemukan Mesias (1:41). Putri Samaria mengatakan kepada Yesus, bila Mesias datang, ia akan mengajar mereka tentang banyak hal (Mat 4:25). Injil Yohanes menyatakan kepada kita bahwa Kristus dalam bahasa Yunani adalah terjemahan, tafsiran Mesias dalam bahasa Ibrani, yang berarti sang terurapi.

   8.     Juru Selamat
Di Lukas 2:11 malaikat memberikan kepada para gembala di Efrata, bahwa pada hari itu telah lahir bagi mereka Juru Selamat. Demikian Kepala Perjanjian itu disebut Juru Selamat, karena Ia menyelamatkan atau melepaskan umatnya dari dosa mereka (Mat. 1:21), bahkan Ia juga menyelamatkan dunia, sehingga Ia juga disebut Juru Selamat Dunia (1: Yoh 4:14). Kristus adalah Juru Selamat, bukan Guru Selamat. Ia mendatangkan keselamatan, bukan mengajarkan ajaran keselamatan. Ia adalah keselamatan itu sendiri.


DAFTAR PUSTAKA

Lembaga Alkitab Indonesia. 2008. Alkitab PENUNTUN Hidup Berkelimpahan. Malang: Gandum Mas.
Hadiwijono, Harun. 2012. Iman Kristen. Jakarta: Gunung Mulia.
Darmawijaya. 1987. Gelar-Gelar Yesus. Yogyakarta: Kanisius.
Thiessen, Henry C.2010. Teologi Sistematika. Malang: Gandum Mas.

Browning, W.R.F. 2013. Kamus Alkitab. Jakarta: Gunung Mulia.

Sejarah Gereja

Garis-Garis Besar Arti dan Sejarah Gereja

Arti Sejarah Gereja
Secara etimologi kata sejarah berasal dari beberapa bahasa :
·         Bahasa Arab syajaratun          : Pohon
Syajirah amnasab                    : Pohon istilah
·         Bahasa Inggris History            : Masa lampau umat manusia
·         Bahasa Latih Historia              : Informasi/pencarian/ilmu
·         Bahasa Yunani Istor                 : Orang pandai
      Istoria                                       : Ilmu yang khusus menelaah gejala-gejala dalam urutan kronologis

Dalam KBBI
·         Sejarah            : Kejadian dan peristiwa yang benar-benar terjadi pada masa yang lampau.
·         Sejarah            : Pengetahuan atau uraian mengenai peristiwa-pristiwa dan kejadian-kejadian yang                           benar-benar terjadi dimasa lampau.

Sejarah Dapat dipahami 
  • Silsilah atau asal-usul
  • Kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa lampau
  •  Ilmu pengetahuan dan cerita pelajaran tentang kejadian atau peristiwa yang benar-benar terjadi dimasa lampau

Sejarah
  • Sejarah adalah suatu ilmu pengetahuan yang mempelajari segala peristiwa atau kejadian yang telah terjadi pada masa lampau dalam kehidupan umat manusia

Sifat Khusus Sejarah
  • Adanya masa masa lalu yang berdasarkan urutan waktu/kronologi
  • Peristiwa sejarah menyangkut 3 dimensi waktu : masa lampau, masa kini dan masa yang akan datang
  • Ada hubungan sebab akibat/kausalitas dari peristiwa tersebut.
  •  Kebenaran dari peristiwa sejarah bersifat sementara yang akan gugur apabila ditemukan data atau fakta yang baru

Sejarah Dari Berbagai Sudut Pandang
  • Sejarah sebagai peristiwa                                                                                                     Sejarah merupakan peristiwa yang terjadi pada masa lampau yang hanya sekali terjadi serta       tidak bisa terulang
  • Sejarah sebagai kisah                                                                                                           Sejarah sebagai kisah merupakan rekontruksi dari suatu peristiwa yang dituliskan maupun         diceritakan seseorang
  •   Sejarah sebagai ilmu                                                                                                              Sejarah merupakan ilmu yang mempelajari masa lampau manusia. Sebagai ilmu, sejarah            merupakan pengetahuan ilmiah yang memiliki seperangkat metode, teori yang dipergunakan      untuk meneliti dan menganalisa serta menjelaskan kerangka masa lampau yang                      dipermasalahkan.

Arti Sejarah Gereja

DE JONG
  • Sejarah gereja adalah sejarah agama Kristen
  •  Sejarah gereja adalah sejarah perhimpunan-perhimpunan yang mengakui Yesus Kristus


H. BERKHOF DAN I. H ENKLAAR
  •  Ilmu sejarah gereja adalah memeriksa apakah, bagaimanakah dan sampai mana gereja itu sadar dan setia akan wujud umatnya

VAN DEN END
  • Kisah tentang perkembangan-perkembangan dan perubahan-perubahan yang dialami oleh gereja sebagai persekutuan yang dipanggil Kristus di dunia.

Tugas Sejarah Gereja
  • Tugas sejarah gereja pertama-tama bagaimana Alkitab ditafsirkan dan amanat mana yang diambil oleh gereja. Kemudian diteliti bagaimana hasil tafsiran diatur secara sistematis dan dijadikan ajaran gereja sebagai ukuran untuk kehidupan gereja.

Manfaat Belajar Sejarah Gereja
  •  Ilmu sejarah gereja mau menolong kita mempertanggung jawabkan masa lampau gereja melalui penelitian akar-akar iman kita dan tradisi-tradisi yang terdapat dalam gereja.
  •  Sejarah gereja dapat memperdalam pengetahuan dan pemikiran teologis kita
  • Sejarah gereja mengajar kita untuk kurang memutlakkan pemikiran teologi kita sendiri.
  • Sejarah gereja menghubungkan kita dengan orang Kristen dari gereja-gereja lain. sejarah gereja adalah pekerjaan oikumenis.


PRIODESASI SEJARAH GEREJA
Prinsip Pembagian Priode
            Pembagian waktu dalam priode-priode biasanya mulai dalam pembagian kasar dalam priode-priode panjang (beberapa abad). Kemudian setiap priode ini dibagi dalam bagian lebih pendek (beberapa/dasawarsa/puluhan tahun) yang dapat dibagi secara halus lagi.
Priodesasi sejarah gereja dibagi 3 bagian yaitu :
  • Gereja kuno (30-590)
  •  Gereja pada abad pertengahan (590 – 1429/1517)
  • Gereja pada zaman baru (1492/1517 – sekarang)


Gereja Kuno ( 30-590 )
  • Timbulnya gereja ( 30-313 )
  • Gereja diakui oleh pemerintahan kekaisaran Romawi ( 313-590 )


Timbulnya Gereja ( 30-313 )
  •  Pada priode ini diletakkan dasar organisasi tata ibadah, liturgi dan ajaran gereja. Juga digumuli mengenai masalah-masalah jabatan gereja, pokok-pokok dogma (Kristologi, Trinitas).
  • Secara geografis gereja pada priode ini umumnya di daerah Romawi yang terletak dikeliling laut tengah dan Asia kecil (sekarang Turki), Siria, Yunani, sampai ujung kekaisaran Romawi.
  •  Kebudayaan berkembang untuk helenisme (kebudayaan Yunani).
  • Gereja diperhadapkan dengan ajaran Gnostik/Gnosis (Yunani) materi adalah dosa.
  • Gereja selalu mendapat tekanan dari pemerintah/penguasa.


Gereja Diakui Oleh Pemerintahan Kekaisaran Romawi (313-590)
  • Konstantinus Agung mengeluarkan surat edikt milano surat perintah menganut agama Kristen.
  • Sejak abad ke-dua muncul persoalan tentang hakikat Kristus yang kemudian didiskusikan dalam berbagai konsili.
  • Konsili Nicea 325 dan konsili konstantinopel tahun 381 mendiskusikan tentang Trinitas ( apakah Kristus sederajat dengan Allah atau lebih rendah dan bagaimana status roh kudus). Kemudian dirumuskan dogma “Allah ada 3 oknum” atau “satu hakikat tiga oknum”
  • Konsili Chalcedon 451 membahas “Kristologi”. Apakah Yesus Allah atau manusia? Melahirkan keputusan “saru oknum dua tabiat”.


Gereja Abad Pertengahan ( 590-1492/ 1517 )
  • Gereja awal abad pertengahan (590-910)
  •  Gereja abad pertengahan yang jaya (910-1300)
  • Gereja akhir abad pertengahan


Gereja Awal Abad Pertengahan (590-910)
  • Suku – suku dieropa sudah dikristenkan
  • Agama islam menyerang wilayah Kristen seperti daerah kekaisaran romawi timur (Timur tengah, Afrika utara juga semenanjung Liberia, Spanyol dan Portugal).
  • Gereja terbagi dua bagian yaitu : Gereja Roma katolik di Roma dipimpin oleh Paus dan Gereja timur yang berpusat di Konstantinopel dipimpin seorang Patriach.


Gereja Abad Pertengahan Yang Jaya (910-1300)
  •  Pembaharuan kebiaraan yang dimulai orang Prancis. Kebiaraan dikembalikan pada tujuan awal yaitu suatu kehidupan yang suci dan sederhana.
  • Posisi Paus mencapai puncak kejayaan dimana ia tidak hanya memainkan peran dibidang agama tapi politik (Gregorius Agung)
  • Lahir teologi Scholastik (cara berfikir filsafat)


Gereja Akhir Abad Pertengahan (1300-1492/1517)
  • Peralihan abad pertengahan ke zaman reformasi
  •  Krisis kepausan, kepausan dikuasai oleh raja prancis. Paus berpindah ke Avignon di prancis, “pembuangan kepausan ke Babylon”.
  • Kontrol terhadap rohaniawan makin lemah yang menyebabkan tingkah laku merosot.
  • Muncul semangat untuk mereformasi gereja
  • Pembaharuan dibidang kebudayaan yang disebut Renaisances


Gereja Pada Zaman Baru (1492/1517 – sekarang)
  • Reformasi dan kontra reformasi (1492/1517-1650)
  • Pietisme dan pencerahan (1650-1789)
  • Gereja setelah revolusi prancis (1789-sekarang)


Reformasi dan Kontra Reformasi (1492/1517-1650)
  • Reformasi gereja adalah Luther dan kawan – kawan.
  • Muncul gerakan reformasi dipihak katolik Roma yang ditandai dengan pembentukan ordo Yesuit (serikat Yesus) pada tahun 1540 yang anggotanya merupakan kader pelopor kontra reformasi. Konsili Trente dilaksanakan (1545-1563) untuk menetapkan kembali ajaran Roma Katolik dan menolak ajaran sola gracia dan sola fide.
  • Gereja-gereja protestan mulai berdiri sendiri
  • Muncul ketegangan secara politik antara raja pro-reformasi dengan kontra-reformasi.


Pietisme dan Pencerahan (1650-1789)
  •  Muncul aliran pietisme yang menekankan kesalehan (bhs.latin = pietis) sebagai perkembangan gereja reformasi sangat formal dan ibadah ilmiah dan tidak memberi ruang penghayatan secara pribadi.
  •  Dalam pietisme ada kecendrungan individualisme, apa yang dirasa, dihayati, dipercaya dan dipikirkan masing-masing individu.
  • Lahir semangat pencerahan yang berusaha membebaskan diri dari otoritas kekuasaan yang menghambat pikiran yang bebas.


Gereja Sesudah Revolusi Prancis (1789-sekarang)
  • Revolusi prancis (1789-1815) dengan bersifat demokratis dan mendapat reaksi karena ke kerasannya.
  • Reaksi ini disebut Restorasi, yaitu memunculkan kembali keadaan politik dan sosial sebelum revolusi prancis.
  • Konsili Vatikan I (1869-1870) diadakan dan memutuskan paus tidak dapat keliru sebagai kepala gereja (ex cathedra) tentang iman dan etika.
  • Pada abad ke-19 negara-negara eropa melakukan ekspansi kebidang politik (kolonialisme dan menyebarkan injil).
  •  Lahirlah liberalisme yang menekankan kebebasan tiap-tiap pribadi pada segala bidang.

Pengetahuan Alkitab

ALAT-ALAT MUSIK DALAM ALKITAB

KITAB I & II TAWARIKH.
   1.      Daud menyuruh para kepala orang lewi, yakni para penyanyi, dengan alat-alat musik seperti gambus, kecapi, ceracap 1Taw15:16-24, 28 untuk melakukan puji-pujian pada perayaan menyangkut dengan seluruh rangkaian peribadatan. Misalnya kegiatan ibadah-ibadah lain, seperti Perayaan Paskah, Hari Raya Pondok Daun, dsb. Gambus, kecapi, ceracap dan nafiri sangat berperan penting dalam mengiringi nyanyian umat dalam beribadah atau digunakan orang Israel untuk memuji dan memasyurkan nama Allah bawasanya kekal selama-lamanya. Puji-pujian atau nyanyian yang sering dibawakan pun terjadi, baik dalam bentuk individu dan secara kelompok paduan suara atau rombongan.
   2.      Sebagai Pemain musik, yakni alat-alat musik yang sering digunakan ialah gambus,kecapi, ceracap, bunyi sangkakala dan nafiri 1Taw.15:16, 28. 1Taw. 16:5. Sedangkan dalam kitab 2Taw.5:13, 7:6 memperlihatkan pun demikian. Beberapa alat musik inilah yang berperan penting, sebagai pengiring nyanyian umat yang dibawakan oleh orang isreal secara khusus para suku lewi yang bertugas.

                                                            KITAB  EZRA
   1.      Peran orang lewi adalah sebagai musisi, alat musik yang digunakan adalah nafiri yang dibawa oleh Imam-imam, bani Asaf sebagai penyanyi yang membawa alat musik ceracap.

KITAB NEHEMIA
   1.      Dalam Nehemia 12:27-43, dalam perikop tentang penthabisan tembok Yerusalem, dapat dilihat bagaimana ungkapan syukur dan sukacita bangsa Israel pada saat itu. Diundanglah suku Lewi dari segala tempat untuk suatu ungkapan syukur yang meriah, tidak hanya ungkapan syukur melainkan juga dengan kidung nyanyian gambus, ceracap dan kecapi. Diperlihatkan partisipasi dan pembagian paduan suara.
   2.      Paduan suara itu dibagi dalam dua kelompok besar yang satu berarak ke kanan di atas tembok kea rah jurusan pintu gerbang, kaum imam yang memegang nafiri, paduan suara yang kedua berarak ke kiri melalui tembok dan menara perapian sampai tembok besar. Kedua paduan suara itu berdiri di rumah Allah. Segala perempuan dan anak-anak bersukaria sehingga kesukaan Yerusalem terdengar sampai jauh. Para imam dan orang-orang Lewi mendapat jaminan hidup sesuai dengan ladang yang ada pada kota itu dan Nehemia pun tetap setia pada hukum yang ada dan mempertahankan apa yang menjadi hak dari pelayan-pelayan Tuhan yang setia pada masa itu.

KITAB WAHYU
   1.      Alat musik: Sangkakala (Why. 11:15), kecapi (Why. 15:2)
   2.      Penyanyi: Kedua puluh empat tua-tua (Why. 11:16); orang-orang yang telah mengalahkan patung dan binatang dan bilangan namanya (Why. 15:13), himpunan orang banyak di sorga (Why.  19:1).
Pemain musik: orang-orang yang telah mengalahkan binatang dan patung dan bilangan namanya yang memainkan kecapi. (Why. 15:2)

Indahnya Kebersamaan

AKU DAN KASIH DALAM HIDUP BERSESAMA

“Aku akan terus berubah bukan untuk tidak menjadi aku, melainkan semakin menjadi aku seutuhnya.” Aku adalah peribadiku sendiri, dengan kelebihan dan keterbatasan yang ada di dalam Aku dan tidak akan pernah berubah menjadi diri orang lain karena Aku hanyalah pribadiku sendiri dan bukan orang lain. Aku ada karena aku – aku yang lain juga ada, dimana aku sebagai seorang pribadi yang tumbuh dan berkembang karena aku yang lain dengan aku yang adalah pribadiku sendiri hidup bersama dalam kasih. Sehingga Aku ada di dalam aku yang lain, sehingga apa yang Aku tidak akan dapat lakukan karena hanya aku yang terbatas. Aku yang terbatas membutuhkan aku terbatas yang, Aku yang terbatas bersatu bersama keterbatasan aku yang lain dan membangun kebersamaan, membuat komitmen agar saling mendukung dan menopang. Sehingga Aku dan aku yang lain lebih berarti dan pada akhirnya menjadi kita yang kuat.

Aku ada di dalam dia dan aku yang lain hidup di dalam aku, maka kita akan terbentuk menjadi satu dimana terdapat aku – aku yang lain dalam karakter dan kemampuan yang berbeda dengan berlandaskan kasih antara Aku dengan aku – aku yang lain. Aku kuat bersama aku yang lain dan aku yang lain kuat bersama Aku, sehingga menjadi kita yang membentuk interaksi dinamis dan membangun. Kita melebur di dalam kasih abadi, tidak akan terpisah menjadi aku – aku yang terbatas, karena kita bersinar jika bersama dan akan lebih bergelora dalam kebersesamaan. Sehingga kasih yang nyata itu dapat membias kepada pribadi – pribadi yang lain.

Hidup di dunia ini tidak cukup hanya bersama saja, karena kita tidak akan menciptakan interaksi di dalamnya, tapi bagaimana kita dapat bersama di dalam komitmen menjadi satu Aku diantara begitu banyak aku adalah pribadi yang lainnya. Lebih dari pada itu kita akan menyatukan satu seruan, satu pendapat dan satu tujuan yang sama dalam mewujudnyatakannya dengan kelebihan dan keterbatasan yang menjadi daya dan juang dalam mencapai suatu tujuan itu. Semua hal tersebut dapat kita artikan sebagai Persekutuan dengan berdasarkan kasih, agar kita memiliki rasa tanggungjawab bersama. Hal tersebut bukan berarti keberhasilan dan kesusahan harus di tanggung bersama, tapi bagaimana kita dapat peka dan saling peduli di dalam persekutuan yang hidup dalam satu komitmen.

Dianalogikan dengan sebuah bahtera yang di namakan Bahtera Persekutuan. Bukan hanya menjadi suatu wadah dimana orang – orang berkumpul, akan tetapi kita dapat melihat bahwa tidak  mungkin hanya dengan satu Aku yang terbatas dapat memberi komando kepada semua bagian dan bidang di dalam nya. Sehingga harus ada pembagian tanggungjawab sesuai dengan kelebihannya masing – masing dan dengan tanggungjawab penuh atas bagian – bagian yang dia dapatkan tersebut. Bagaimana Aku yang terbatas dapat menggerakkan bahtera persekutuan ini dengan sendiri? Tapi akan menjadi mungkin jika kita sehati dan sepikir di dalam pelaksanaannya. Sehingga pada akhirnya kita akan mencapai tujuan utama dari setiap Aku yang telah menjadi kita dalam kemerdekaannya mencapai suatu keberhasilan.

Cinta-kasih setiap orang itu berbeda dan punya kadarnya masing – masing, Aku tidak akan menuntut aku yang lain supaya lebih dan lebih terhadap Aku, aku yang lain juga tidak akan demikian kepada Aku pribadi, tetapi bagaimana kita saling membangun dan mengisisi di dalam setiap bagian kehidupan kita dan menjadi tetap stabil tanpa ada celah yang tidak tertutup. Kesempurnaan itu dinamakan lingkaran kasih dalam persekutuan, dengan membuka tangan terhadap pribadi yang lain. Kasih yang sempurna itu luar biasa, sehingga orang lain akan terkesima dan dengan kerendahan hati mau bergabung untuk menerimanya juga.

Manusia adalah makhluk sosial yang memerlukan bantuan orang lain, karena pada hakikatnya seorang pribadi tidak dapat tumbuh dan berkembang sendiri tanpa orang lain. Satu pribadi akan berinteraksi jika ada pribadi yang lain yang juga memiliki perasaan, sehingga kasih itu nyata dan bukan berinteraksi dengan benda mati yang tidak memiliki perasaan, seperti pribadi manusia pada setiap diri pribadinya. Kehidupan seperti ini dapat juga membawa kita berpikir ke arah sosial, dimana banyak orang yang lemah dan tidak mempunyai tingkatan yang sama dengan yang lainnya, bahkan jauh lebih di bawah tingkatan kesetaraan pada umumnya. Kita dapat menyadari bahwa mereka membutuhkan kita dan kita juga kuat bersama dengan mereka, karena tanpa mereka tidak akan ada penilaian atau tolak ukur antara kita dan dia dan tanpa kita dia tidak akan dapat di tinjau dari keberadaan hidupnya. Kasih akan menjadi lingkaran persekutuan yang sempurna, jikalau kita peduli terhadap apa yang dialami dari aku – aku yang lain nya.

Aku punya kewajiban untuk melindungi aku yang lain dan aku yang lain mempunyai kewajiban untuk melindungi aku. Semua ini dapat terjadi karena adanya rasa saling peduli dan sayang terhadap pribadi orang lain, berlandaskan dari perasaan dan berlanjut ke jenjang lebih tinggi yaitu, kasih antara sesama manusia. Kita akan dapat berjalan tegak dan berwibawa, jikalau persekutuan itu tercapai dengan sempurna, bukan hanya sekedar bersekutu akan tetapi bagaimana menerapkan kasih di dalam suatu wadah persekutuan. Kasilah aku yang lain maka secara tidak langsung aku yang tidak terlihat akan merasakannya, karena mustahil jikalau aku mengasihi aku yang tidak terlihat sedangkan aku yang terlihat kita tidak bisa kasihi dengan baik. Pribadiku dan pribadi yang lain akan menjadi satu kesatuan dan membentuk dua aku yang berbeda dan menjadi kita. Aku dan aku yang lain hanya dapat menjadi kita yang sama, jika didasari dalam pemahaman dan pemikiran yang sama. Hal inilah yang sekarang sudah mulai hilang, kita terkadang merasa lebih mampu dari aku yang lain dan kita yang terbentuk adalah kita yang semu karena tidak memiliki makna dan dasar dalam pembentukannya.

Dalam keadaan sekarang ini masih banyak pribadi yang lebih menjadi pribadi yang menyendiri dan tidak peduli terhadap aku – aku yang lain, padahal hubungan yang baik itu harus di bangun dalam lingkungan kita yang terdapat juga pribadi yang lain dan kita yang sudah terbentuk dapat berarti di tengan kita – kita yang lain, di dalam ruang lingkup hidup untuk saling bersesama dalam menjalani hidupnya. Kuat kita bersama tapi akan hancur bahkan tidak menghasilkan apa – apa jika hanya sendiri, karena setitik pun kita tidak punya pribadi yang hanya mempunyai sisi lebih akan tetapi kita harus sadari bahwa sisi kekurangan itu tetap ada dan pasti ada di setiap pribadi Aku yang lain. Bayangkan jika aku melakukan hal yang seharusnya dan lebih mudahnya dilakukan oleh bantuan aku – aku yang lain, pasti aku akan mendapat hasil yang tidak maksimal, menguras tenaga dan pikiran berkalilipat.

“Berat sama di pikul dan ringan sama di jinjing” artinya dengan kita bersama maka aku akan dapat malakukan sesuatu hal itu menjadi maksimal karena adanya aku – aku yang lain. Sungguh luar biasa kekuatan antara satu pribadi dengan pribadi yang lain menjadi kita yang sempurna, dan kasih itu juga dapat terealisasi dengan baik tanpa mengeluarkan tenaga dan pikiran yang besar. Hidup bersama akan terasa bahwa kebersamaan itu adalah bagian kehidupan manusia yang tidak dapat dipisahkan begitu saja. Sehebat apa pun seorang pribadi menjauhkan dirinya, maka pada akhirnya akan kembali dan melakukan interaksi juga, karena hakikatnya ialah makhluk sosial yang tidak dapat hidup tanpa orang lain.

"Aku adalah aku dan akan tetap menjadi aku, tetapi Aku dan aku – aku yang lain harus saling belebur menjadi satu aku diantara banyak aku – aku yang lain di dalamnya dengan demikian aku yang sempurna menjadi damai karena bukan lagi aku, dia dan mereka, melainkan aku yang adalah pribadi yang menjadi satu."

Kamis, 28 April 2016

LITURGIKA

BENTUK – BENTUK LITURGI

      I.      LITURGI MENJELANG ABAD PERTENGAHAN
Masa tersebut berlangsung sekitar satu setengah abad, antara zaman setelah Augustinus dan sebelum Gregorius I. Masa ini diwarnai oleh keberhasilan kaisar Konstantin Agung (± 274-337, kaisar sejak 312) bersama Lycinus Augustus dalam Edikmilano (313) menghasilkan hubungan baik antara gereja dan agama.
·         Ibadah agama lama
Peribadahan agama lama dilarang, tetapi ritus-ritusnya dibawa masuk ke dalam liturgi gereja. Salah satu contoh kreatifitas yang mengkristenkan agama lama antara lain refrigerium, yakni upacara perjamuan di makam. Contoh lain seperti respon – respon umat, antara lain libera Nos, Domine (bebaskanlah kami, ya Tuhan), Terogamus, Oudinos (kami mohon dengarkanlah kami).
·         Budaya Imperial dan tata busana
Budaya kekaisaran yang masuk ke dalam liturgi, tata busana liturgi, misalnya jubah imam yang tampak agung dan penutup kepala mirip mahkota, tata gerak liturgis, misalnya prosesi yang terlihat anggun, mencium tangan uskup dan berlutut di altar. Arsitektur gedung gereja yang besar menunjukkan keagungan dan kemegahan imperial.
·         Gereja di Yerusalem
Gereja di Yerusalem mempunyai dua karakter dalam ibadah, ibadah yang berlatar belakang katedral dengan sifat komunal dan ibadah biara, berlatar belakang pribadi/personal.
·         Tradisi liturgi membiara
Liturgi membiara memiliki perbedaan terutama dalam hal praksis dengan liturgi gereja waktu itu yaitu dalam hal fundamental. Hal ini karena liturgi gereja telah dicemari dengan urusan politik dan duniawi. Gereja menjadi seolah-olah tampak sekuler.

       2.      LITURGI ABAD PERTENGAHAN PERTAMA
     Liturgi abad pertengahan pertama adalah masa antar Gregorius I (590-604) dan Gregorius IV (1073-1085). Sekitar abad ke-7 ritus-ritus liturgi yang berbeda baik Timur maupun di Barat telah menemukan bentuk dasar serta ciri khas masing-masing. Dalam sejarah abad ke-5, ada dua rumpun tradisi besar dalam liturgi, 1. Liturgi Roma (tersebar di luar Roma, bahkan ke Italia ke arah selatan) dan 2. Liturgi Gallia (tersebar mulai dari timur menuju kearah Italia Utara).
·         Buku-buku Liturgi dan Rumpun Tradisi Roma dan Gallia
Rumpun-rumpun tradisi liturgi dibarengi dengan penertiban buku-buku kebaktian atau buku-buku liturgi. Buku-buku yang termasuk dalam rumpun liturgi Roma, yaitu : Sacramentarium Gregorius, buku yang diperkirakan berasal dari zaman Karel Agung (742-814). Isinya tentang ordinarium misa, doa-doa, prefasi, unsur-unsur misa, nyanyian resitasi untuk uskup, berbagai hari raya dan tahun liturgi yang dimulai dari malam Natal 24 Desember, doa-doa penahbisan diakon, imam atau presbiter dan uskup. Sacramentarium Leonia, pada sekitar abad ke-7 berisi dua belas seksi hari raya yang berhubungan dengan dua belas bulan yang bersangkutan. Kumpulan Naskah Revenna, pada sekitar abad ke-10 di kota Revenna. Buku tersebut berisi empat puluh doa persiapan Natal. Ordines Romani, pada sekitar abad ke-9 dan ke-15 berisi liturgi ekaristi, baptisan dan doa penahbisan.
Buku-buku liturgi Gallia, yaitu : Missale Gothicum, buku ini berisi banyak unsur dari Roma, antara lain misa malam Natal, misa para kudus, setelah Epifania, Minggu-minggu Pra-paskah, Paskah, perayaan penemuan Salib Kudus, hari raya penginjilan Yohanes dan sebagainya. Misalle Gallicanum Vetus, buku ini berisi misi bagi Santo Germanus dari Auxerre, doa-doa bagi perawan dan janda, misa in Advenum Domini, Malam Natal, malam setelah Natal, ritus-ritus ketekumenat, traditio symboli dan minggu-minggu sebelum paska. Misa-misa yang dipublikasikan oleh Mone, buku yang berasal dari misa Gallia, tanpa pengaruh unsur Roma. Buku pengajaran Luxeunceilk, pada sekitar abad ke-7 berisi pengajaran-pengajaran misa sesuai dengan tahun liturgi Gallia. Surat-surat Santo Germanus dari Paris, terdapat dalam surat Germanus episcopus Parisius scripsit demissa. Isinya adalah tata misa, unsur-unsur liturgi secara detail, perayaan untuk peristiwa istimewa dan tata busana liturgi. Buku-buku Inggris dan Irlandia, buku ini menggunakan bahasa Latin antara abad ke-8 dan ke-10 dan unsur Gallia yang berbahasa Yunani. Isinya adalah ordinarium misa, doa-doa untuk peristiwa istimewa yang bersifat proprium, ordo babtismi, ordo ad infirmum visitandum dan misa untuk Irlandia. Misa Bobbia, isinya adalah tiga misa Adventum Domini, Malam Natal, hari raya para Kudus. Buku-buku Ambrosian, pada sekitar abad ke-10 termasuk kumpulan Ambrosian di Milan. Isinya adalah hari raya Santo Martinus pada 11 November dan minggu-minggu setelah Pentakosta. Buku-buku Mozarabis, terdiri dari Sakramentaris pada sekitar abad ke-10.
·         Liturgi Papal dalam Liturgi Roma
Tradisi Roma merupakan penyesuaian dengan budaya imperial dan ibadah paganistis. Tradisi utara dengan pola Franko-Jerman setelah abad ke-8 dan zaman kepausan membawa dampak bagi timbulnya liturgi kepausan, disebut liturgi papal atau ritus papal.
·         Liturgi Gallia
Liturgi Gallia berasal dari liturgi oriental dan pada mulanya menggunakan bahasa Yunani. Setelah penyebarannya ke daerah Italia, bahasa yang formula Yunani pun bercampur dengan bahasa dan formula Latin.
·         Perkembangan dan Penetapan Sakramen
Pada abad ke-16 ada penetapan jumlah sakramen, walaupun tidak pernah dilakukan secara tegas. Ada tujuh sakramen, yaitu baptisan anak dan tobat, krima atau peneguhan baptisan oleh uskup, ritus pertobatan dan pengampunan, perminyakan akhir hayat, penahbisan imam, persekutuan umat dalam perkawinan, dan perjamuan kudus atau misa. Menjelang akhir abad pertengahan, Paus Eugenius IV (1431-1447) mengkristalisasikan doktrin sakramen. Ia mengukuhkan jumlah sakramen, ada tujuh sakramen, yaitu : baptisan, konfirmasi, misa, pertobatan, perminyakan suci, penahbisan dan perkawinan.
·         Perkembangan Disiplin Spritualitas dan Monastik
Pada awal abad pertengahan, biara Barat mulai menjadi mandiri dan mapan dalam menerapkan metode pelatihan spritualitas. Dalam hal metode askese, biara Barat banyak menimba ilmu dari gerakan monastik padang pasir di Mesir. Biara bukan hanya monumental pada dirinya, melainkan juga memberikan sumbangsih besar dalam pembaharuan liturgi dan spritualitas. Disiplin hidup yang tinggi, keteraturan di dalam menyelenggarakan liturgi harian, keheningan di dalam liturgi dan bejana yang menyimpan khazanah musik liturgi sepanjang masa, merupakan sebagai bukti bagaimana biara pada suatu saat membarui kebekuan liturgi gereja. Gerakan liturgis abad ke-19 dan ke-20 nanti kembali menyadarkan dunia akan peran biara. Tanpa biara di dunia, kehidupan belumlah lengkap.

     3.      LITURGI ABAD PERTENGAHAN KEDUA
Liturgi abad pertengahan kedua adalah masa antara menjelang Paus Gregorius VII (±1033-1085) dan menjelang reformasi abad ke-16. Paus Gregorius VII dan Paus Nikolas II mencurahkan perhatian serius untuk membatasi dominasi pemerintahan (kaisar) dalam mencampuri urusan gereja. Muncul pula dampak lain setelah gereja ingin mengatasi kuasa Negara. Dampak tersebut terjadi dalam tubuh gereja sendiri. Perayaan liturgi adalah salah satu dampak tersebut. Katedral-katedral menjadi makin kokoh. Sejumlah gedung gereja yang megah didirikan. Perkembangan ordo-ordo biara meningkat pada zaman tersebut. Kelanjutan dan perkembangan liturgi Papal memunculkan terbentuknya sejumlah gedung gereja berdasarkan sifat perhatiannya. Ada yang kudus dan utama disebut gereja induk, kemudian menjadi gereja katedral untuk melayani liturgi papal. Ada juga yang tidak melayankan liturgi Papal, disebut gereja parokial.
·         Gereja Katedral di antara Gereja Parokial
Hingga abad ke-7, banyak bangunan gereja katedral berarsitektur basilica. Waktu itu liturgi di basilica Lutheran telah lepas dari akarnya sehingga berkembang atau sebenarnya terpelihara dua bentuk liturgi, yaitu :
1.      Pemeliharaan ritus dan perayaan liturgi di kapel Paus (capellani domini papae), dan 2. Perkembangan liturgi secara independen di basilicia Lutheran.
·         Arsitektur Gereja
Setelah tahun 600-an, antara zaman konstantinus dari Karel agung, muncul zaman baru yang dikenal dengan abad-abad pertengahan sebagai masa kebangkitan arsitektur gereja. Arsitektur gereja juga bukan sekedar berdasarkan kebutuhan fungsional dan tempat untuk menampung orang sebanyak-banyaknya, melainkan sebagai sarana spritual untuk merasakan perjumpaan dengan Allah.
·         Liturgi Pernikahan
Liturgi nikah pada abad pertengahan didasarkan pada sakramentaria Roma. Dalam sakramentarium Leonia abad ke-7, liturgi nikah disebut incipit velatio niuptealis, yakni pemberkatan tudung. Pemberkatan tersebut berisi 6 doa yaitu: 1. Doa collecta, memohon berkat Allah secara umum. 2. Doa secreta dan hanc igitus, khusus untuk mempelai. 3. Doa pro sacra lege coniugii, permohonan agar perjamuan yang diberikan oleh perempuan di terima sebagai hukum suci pernikahan. 4. Doa bagi pasangan yang dipersatukan Allah. Ini juga merupakan doa persiapan bahwa Allah menetapkan pernikahan mereka untuk melahirkan keturunan. 5. Doa pro famula tua illa, yakni doa berkat dan mengingatkan bahwa pada usia muda Allah menyatukan mempelai perempuan dengan suaminya untuk tumbuh bersama hingga tua. 6. Doa pater mundi conditor (Bapa Sang Khalik Dunia), yakni doa-doa bagi mempelai tentang kisah penciptaan, adalah sebagai berikut : a. Penciptaan manusia melalui perempuan untuk meneruskan umat manusia. b. Perempuan sebagai yang lemah bergabung dengan yang kuat, lalu melahirkan anak. c. Bagi istri yang baik dan memegang hukum disebut aeterna iura. d. Pernikahan bukan hanya untuk mendapatkan anak, melainkan juga untuk tetap beriman. e. Pernikahan di dalam Kristus atau fidelis et casta nubat un Christo.
·         Ordo – ordo biara Baru
Abad-abad pertengahan kedua juga diwarnai dengan munculnya beberapa ordo biara yang kemudian menjadi induk biara-biara dimasa kemudian.
·         Persebaran Brevir dan Liturgi Harian
Brevir berasal dari kata latin brevio atau breviarium, artinya penyingkatan atau ringkasan. Namun, brevir bukan sama sekali buku kecil yang berisi ringkasan ibadah. Brevir berisi tata pelaksanaan liturgi, doa – doa dan nyanyian. Ada sekitar tujuh atau delapan jenis brevir yang berasal dari abad-abad pertengahan antara lain brevir nyanyian primitif dalam dua jenis, brevir primitif portabel dalam dua jenis, brevir nyanyian dan notasinya, dalam tiga jenis, brevir porta

Buku Literatur

Rasid Rachman. 2010. Pembimbing sejarah Liturgi. Jakarta: BPK Gunung Mulia.

Griemer. 2010. Cermin Injil ilmu Liturgi. Yayasan komunikasi bina kasih, litindo.